Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Penerjemah: Abu Muslih Ari Wahyudi

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah –wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

Bid’ah ini –yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

Sumber: http://www.muslim.or.id 

Advertisements

20 thoughts on “Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

  1. bangnoer says:

    Assalamu’alaykum ikhwah, ane mo’ ikutan gabung. Ane cuman mo’ ngelurusin dikit nih sesuai ‘ilmu yang ane tau (afwan jika banyak salah dari benarnya). Jika cuman masalah kayak Maulid masih dipertentangkan, Islam justru makin mundur. Coba antum tanya tafsir yang benar kepada Ustadz yang ‘alim mengenai ayat di Qur’an yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah SWT dan Para Malaikat-Nya bersholawat pada Nabi SAW, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu kepada Nabi SAW…” Nah tuh, Allah SWT beserta Malaikat aja masih bersholawat kepada “kekasihnya” Rasulullah SAW, dan kitapun diseru untuk ikut bersholawat kepada Rasulullah SAW. Yang ane tau nih, isi dari pembacaan riwayat Nabi itu adalah Manaqib Rasulullah SAW yang antara lain isinya banyak bersholawat kepadanya. Antum dah pernah belum mempelajari dengan detail berikut terjemahannya syair-syair Maulid yang sangat indah seperti maulid Barzanji, Ad-Diba’i, Azab, Syaroful Anam, Shimtud Duror, Adh Dhiya’ullami dsb. Pengarang Kitab Maulid ini adalah orang-orang yang “Alim dan luas keilmuannya, bahkan mereka termasuk dalam “Min Awliya Illah”. Coba deh pelajari dengan baik kepada orang yang ‘alim dan luas keilmuannya. Baru antum bisa berkomentar bijak. Dan perlu diketahui dalam pembacaan Maulid itu bukan bernyanyi-nyanyi mengagungkan Rasulullah SAW lebih dari Allah SWT. Ini jelas statement yang terlalu dibuat-buat dan salah serta harus diluruskan, karena memang tidak seperti itu faktanya. Dalam maulid itu kita melantunkan Sholawat yang disuarakan dengan nada-nada yang indah. Bukankah Allah Ta’ala menyukai segala sesuatu yang indah??? Bila Maulid dianggap bid’ah karena “menyanyi-nyanyi”, bagaimana dengan Nasyid apa itu bukan menyanyi. Lha terus menurut antum hukum menyanyi itu apa, bid’ah juga ??? Mengenai berdiri pada saat “syair kelahiran Nabi SAW” itu memang tidak diajarkan oleh Nabi SAW. Ini semata-mata karena ta’dzim kita sebagai ummatnya. Adapun Nabi tidak ingin dihormati secara berlebihan itu karena sikap tawadhu’nya beliau. Nah kita sebagai umatnya yang tahu diri untuk tetap berdiri menghormati beliau. Misalnya, seorang Presiden hadir dalam acara di rumah anda, apa anda akan tetap duduk saja meskipun sang Presiden menyuruh anda tetap duduk ??? Dan bukan sesuatu yang dibuat-buat atau sebuah cerita bohong kalo’ Rasulullah SAW memang hadir saat pembacaan Maulid. Banyak ko’ kisah-kisah fakta di lapangan yang terjadi. Ane punya data-data akurat beberapa cerita ‘Ulama dan Habaib yang pernah menyaksikan kehadiran Rasulullah SAW jika antum berkenan. Cuma, kemampuan “bashiroh” ini hanya diberi Allah Ta’ala kepada orang tertentu saja yang mempunyai maqom yang tinggi di hadapan Allah Ta’ala. Nah sekarang yang dimaksud Bid’ah itu perayaan Maulidnya, pembacaan Maulidnya atau cuma kitab maulidnya ??? (afwan dari al-faqir yang dhoif)

  2. Bung_jak says:

    numpang nimbrung, hari gini ko’ masih ada yah yg suka menebar bid’ah. Apakah ini bukan termasuk tanda-tanda golongan yang suka memecah belah ummat ??? bro’ ummat Islam kini udah semakin pintar dan cerdas dalam memahami ‘ilmu. Jadi gak gampang menebar isu bid’ah segitu sederhananya. Antum yang tinggal di jakarta bisa menyaksikan sendiri makin tahun, makin tambah banyak para pecinta rasulullah SAW. Ada Majelis Rasulullah SAW, Majelis Nurul Musthofa, Majelis Ash-Sholaatu ‘alan Nabiy SAW, An Nuurul Kasyaf dan lain sebagainya. Hampir setiap malam hari mereka mengadakan syiar akbar Majelis yang mengajak ummat untuk mencintai Nabi SAW dengan mencontoh Suri Tauladan Rasulullah SAW. Lha kalo’ hal seperti ini antum semua anggap bid’ah dan Neraka, kenapa antum enggak mengusik klub-klub malam yang jelas menyediakan kemaksiatan di seantero Jakarta ini ??? Antum cuma berani memecah belah Ummat Islam, teriak bid’ah dan Haram tapi tidak pernah ada tindakan konkritnya dalam kemaslahatan ummat. Bandingkan dengan jama’ah Majelis Rasulullah SAW yang mensyiarkan Akhlaqul Karimah Rasulullah SAW hingga menyentuh Qolbu para “berandal dan pekerja malam” dan banyak bergabung mensyiarkan indahnya Islam bersama Majelis Rasulullah SAW. Kenapa kalian tidak mencarikan solusi bagaimana mengajak sodara-sodara kita yang salah jalan dan asik sendiri dengan dunia dakwah kalian serta membiarkan kemaksiatan. Jadi, isu bid’ah di Jakarta dan sekitarnya udah gak mempan bro’. Mending antum kembali ke jalan yang benar deh…(ngaji lagi sama ‘Ulama yang sanadnya nyampe sama Rasulullah SAW dan keluasan ‘ilmunya mumpuni). Emangnya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin itu siapa??? seorang mujtahid kah, atau benar-benar seorang yang ‘alim ??? dan apakah ke’alimannya melebihi para pengarang kitab Maulid ??? ko’ bisa segitu gampangnya membid’ahkan kelompok yang lain. Kalo’ emang seorang yang ‘alim, ko’ yah sederhana benar dia menguraikan makna bid’ah seperti itu dan amat sayang ‘Ulama seperti dia masih mempermasalahkan furu’iyah. Kalo’ makna bid’ah cuma diartikan perkara ibadah yang Rasulullah SAW tidak pernah lakukan, bagaimana dengan tarawih berjama’ah di Masjidil Haram, lalu dengan zakat fitrah dengan beras, puasa sunnah di hari 9 Muharram, bukankah itu semua tidak pernah Rasulullah SAW lakukan ??? Tapi menurut saya, meski ada dalil yang begitu banyak dan detail kami paparkan di sini, tidak akan pernah bisa mematahkan argumentasi antum semua dengan dalil-dalil tsb baik dari Qur’an maupun Hadits. Karena Ciri-ciri WAHABI sudah meresap di dalam Qalbu antum semua. Kenapa WAHABI gak bisa berkembang di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya ??? karena mereka sukanya mencela golongan yang lain untuk memecah belah dan selalu merasa paling benar. Na’udzu billaaahi min dzaalik…

  3. Surianto says:

    Wah ini obrolan tingkat selebritis(ahli ilmu agama)rupanya,orang kayak saya yg nilai agamanya dulu di sekolah 3,baca artikel di atas tambah bingung,dengan segala yang di sebutin,yang kutahu selain kewajiban adalah halal dan haram,aku googling pake handphone,081347756919.ya biar tau,nah dulu di sekolah formal ngak ada di ajari tentang bid’ah,atau lain-lainya.

  4. Orang yang tidak suka dibacakan maulid Nabi Muhammad SAW hanya orang-orang yang tdak ada rasa cinta dengan Nabinya sendiri dan selalu tidak senang dengan orang-orang terhadap para pecinta nabi Muhammad SAW. berarti pula mereka itu adalah antek-anteknya Dajjal

  5. dd says:

    bahwa segalanya tergantung dari bagaimana umat islam memberikan makna maulid nabi. etrlepas kontroversi tanggal kelahiran, yang jelas bahwa pernah sejarah melahirkan seorang insan yang mulia yang rela membawa kita kembali ke jalan yang lurus.nabi menjadi seorang rasul tidak untuk di perdebatkan kapan beliau lahir atau tidak. karena esensinya mengenang rasul adalah mengambil hikmah atas motivasi beliau dalam menegakkan ajaran ALLAH. yang esensinya memiliki moralitas yang luar biasa untuk kita contoh. entah dalam bentuk perayaan atau pun tidak. yang terpenting sekarang adalah, sudahkah kita belajar dari rasul junjungan kita? atau kita hanya sekedar asyik saja dengan perayaan (menghayati hanya jika maulid nabi?) wallahu alam

  6. irman says:

    maaf klo kata2 ana salah ya ikhwan semua. Sebenernya paparan di atas sudah cukup jelas tentang maulid nabi bahwa memang kita tidak ada salahnya kita merayakannya namun perlu di ingat bahwa semua amalan ada tuntunannya yg jelas dari nabi sekarang kita ambil contoh adab buang hajat kecil/besar itu ada tuntunannya nah sekarang kita lihat ada gak perintah dari nabi Salallahu Alaihi Wasallam ttg maulid yang di rayakan secara kolosal di setiap belahan dunia .ingat ya ikhwan para sahabat, tabiin,tabiit tabiin yang kata rosulullah di katakan sebagai generasi terbaik(amalannya,agamanya,pengamalan agamanya serta pemahaman agamanya) dan allah senang dan ridho kpd mereka dan tentunya di jamin masuk syurga tidak pernah melakukan ritual Maulid Nabi bahkan di kitab kitab mereka tidak satu kitabpun membahasnya.masa kita yang masih jahil alias bodoh yg belum banyak tau ttg agama islam ini seenaknya mengaku ngaku cinta rosul dgn merayakan maulid yg penuh dengan bid’ah dan kurafat itu kita lakukan.renungkan ya ikhwan sekalian jangan asal ngikut namun belajar yang sungguh sunnguh tentang agama yang mulia ini

  7. anjarikas says:

    Maaf kalau salah tulis.,,kalau segala sesuatunya dikaitkan ama bid’ah, ane rasa byk sekali yg bid’ah bukan hanya perayaan maulid..

  8. aspee says:

    Mohon maaf, daripada membahas tema yg memecah belah ummat, mending cari tema yg amar ma’ruf nahi munkar aj.. di lain pihak kita sibuk berpecah belah, ini itu, gara2 masalah seperti ini, kita ketinggalan jauh dibandingkan orang non-muslim, yakin lh, jarang sekali sekarang ditemui para ilmuwan besar seperti ibnu sina dan al-jabar, dll, yg luas ilmunya dan luas pemahaman tentang islam, ya ngga?? Klo pun ada tidak jarang pemahaman akan islam yg sempit. Ingat, klo diambil persamaannya, saya yakin yg berdebat, punya 5 rukun islam dan 6 rukun iman.. jadi mending cari tema yg mampu memotivasi umat islam bersatu padu bahu membahu, menegakkan agama islam.. yg paling dibenci oleh orang kafir tentunya keadaan ummat islam yg bersatu dan ummat islam yg kaya-raya, karena jika hal tersebut tercapai maka agama Islam akan kuat, seperti yg pernah terjadi pada masa sebelum kita, yg bahkan abu bakar r.a bersedia menyumbangkan seluruh hartanya untuk jihad di jalan Allah, sementara dlm keadaan yg skrg ini, kalian bisa lihat sendiri, bahwa umat Islam terpecah belah dan dalam keadaan ekonomi yg memprihatinkan, kalian bisa lihat sendiri dlm tyngn berita, berapa banyak penduduk miskin di Indonesia, kira2 dari seluruhnya itu, tanyakan pada diri sendiri, apakah mayoritas beragama Islam? klo begini caranya apa ngga bikin senang orang kafir, klo misi mereka berhasil… nah akhir kata, salah khilaf saya mohon maaf, smoga apa yg disampaikan bermanfaat….

  9. ade says:

    selalu ada beda pendapat akal fikir kita yang menetukan, mudah mudahan hidayah allah swt selalu menaungi hati hati kita amin,,……

  10. firma says:

    Ane turut sedih dengan banyak jawaban yang menolak bahasan d atas,cinta kepada Rasulullah tak perlu d rayakan dengan menjalankan apa yang beliau ajarkan itu sudah lebih dari cukup,’itiba. perayayaan maulid tak ubahnya menjadikan masjid seperti gereja…..sadarlah wahai kawan yang membantah! dalam syair2 barzanji telah banyak di temukan kata2 yang mengandung kesyirikan….ghuluw! ini bukan hendak memecah belah ummat, betapa picik pemikiran klo ini di anggap hendak memecah belah……….Jazakallahu khairan katsiran.

  11. Syarif says:

    Aslm. didalam hal amalan agama, kita hrz berusaha untuk mengikuti tuntunan rasulullah. apabila org mengatakan bahwa maulid nabi adalah dimana kita mengingat sejarah rasulullah, berarti dia hanya mengingat sejarah itu setahun sekali. memang benar Allah n malaikatnya bersholawat kpd rasulullah, ttp itu dilakukan setiap hari, tidak hanya pada hari maulid nabi.

  12. busyet dah!! says:

    Waddduuuhhh…busyet dah!!!
    Udahlah gini ajaaaa…yg nggak senang sama maulud udahlah lebih
    baek dieeemm aja ya jangan suka usil!
    jangan suka ngasih komentar yg macem2!
    Apalagi bilang yg merayakan maulud haram! masuk neraka!!
    hehehe…EMANG YG PUNYA SURGA NERAKA BAPAK MOYANGNYA APA??hehehe
    Jadi begini wahai kaum wahabi,
    Kita2 merayakan maulud itu dengan niat ingin merayakan hari kelahiran
    kekasih Allah, apa nggak boleh ane merayakan hari ULTAH seorang JUNJUNGAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW???maksud ane merayakan hari kelahiran Rasulullah itu karena ane betul2 seneng dan bahagia dengan kelahiran beliau.
    Terus, coba ente2 sekalian baca dan fahami arti dari kitab2 maulud.

    Apa ada yg salah??apa ada yg mengandung syirik??hehehe
    NO WAY!!!!Isinya itu berupa sholawat atas Nabi, puji2an terhadap akhlak Nabi, dan jangan lupa didlmnya juga terdapat kalimat2 yg mengagungkan ALLAH SWT.

    Jadi kite2 yg merayakan maulud ini tau dirilah siapa itu Rasulullah dan siapa itu ALLAH SWT. Siapa yg harus disembah dan akhlaq siapa yg harus ditiru…Itu aja kok!!! Kenapa ente2 yg wahabi ini sewoottt!!

    Ane jadi suuzzon sama ente2 yg wahabi ini, seolah2 ente2 ini munafiq, org yg nggak peduli sama Nabi MUHAMMAD SAW…

    Apa ente2 ini kagak cinta sama Rasulullah SAW????
    Terus terang ane kasih tau, setiap ana membaca maulud, kecintaan ana terhadap Rasulullah SAW semakin bertambah. Apa itu salah????

    Apa ALLAH melarang ane mencintai Rasulullah??
    Ya nggak mungkinlah..justru ALLAH SWT menyukai org yg mencintai kekasih-Nya itu…

    Makanya wahai wahabi…banyak2lah membaca shalawat jangan cuma didlm sholat (tasyahud) aja membaca sholawat.

    ALLAH SWT dan para malaikat-Nya aja membaca sholawat atas Nabi…lha ini kita manusia yg sangat kecil dihadapan ALLAH kok
    males baca sholawat malah mengharamkan perayaan maulid yg jelas2 isinya sebagian besar adalah SHOLAWAT..

    Jadi kalo ente2 pada nggak senang maulid ya sudah..diem!
    Shut Up! OK!

  13. fari aurel says:

    allahumma sholli ‘ala MUHAMMAD………..!
    ya 9ak ikhwan semwa..?
    🙂
    bagi yg gak dukung bdiem ajhg dech…….!
    bagi yg setujhu , y dah rayainnnnnnn…..! TAPI INGET; LILLAHI TA’ALA….HEHEHEHEHE

  14. arki says:

    Aslmulkm…. saudaraku Seiman….!!!!! Afwan Masaalah ini Ane juga Bru dlm tahap Belajar….Law menurut ane, ane sepakat dengan penjelasan yg di atas, karena Apabila kita melakukan sesuatu biarpun itu menyangkut Keagamaan, dan membawa nilai positif. tp klw diluar ajarannya atau tuntunan Rasulullah SAW i2 tdk trmasuk dlm syariat…karena Rasullah yg kita harus ikuti jlnX karena Rasullah orang yg no 1 yg Menjalankan Agama Islam dgn Sempurna…Berdasarkan Al-Quran & Hadis…yang d tugaskan olh Allah SWT.
    Seandainya… Law memang ada Memperbolehkan merayakan maulid Nabi… coba Perlihatkan firman Allah Swt dan Hadis Yang Sahih…yg membolehkannya….????

  15. Renny says:

    Rosulullah memang memperingati hari kelahirannya. Tapi cara beliau memperingati hari kelahirannya berbeda dengan apa yang sering kita dapatkan di zaman ini. Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Abi Qotadah, bahwasannya Rosulullah ditanya tentang (sebab) puasa Senin dan Kamis. Kemudian Rosulullah menjawab “Hari Senin adalah hari aku dilahirkan sedangkan hari Kamis adalah hari dimana amal-amal manusia diangkat, aku ingin ketika amalku diangkat aku dalam keadaan berpuasa.”

    Rosulullah –yang akhlaknya adalah Al Qur’an– memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, ibadah kepada Allah. Bagaimana dengan ummatnya?

  16. Betul… kita tidak usah memperdebatkan sesuatu hal yang tidak pada tempatnya…..
    Para ‘Ulama dulu menceritakan tentang Rosululloh SAW pasti memakai dasar-dasar yang kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s